Ich Lerne Deutsch

Germany from another view

Hantu Stasiun

Ditulis oleh Bedjo di/pada Nopember 16, 2006

Entah kenapa sejak keluar dari kelas perasaanku sangat aneh, sering tiba-tiba merinding tanpa sebab. Ditambah lagi, pas keluar dari kampus hujan rintik-rintik. Memang menjelang musim dingin seperti ini cuaca jadi nggak tentu. dari terang benderang, dua menit kemudian hujan deras, yang bisa berlangsung cuma satu atau dua menit saja, kemudian terang lagi. Tapi udara dingin disertai angin kencang hampir setiap waktu.

Seperti juga saat itu. jam 9:45 malam, keluar dari pintu kampus tubuhku langsung disambar angin kencang disertai hujan yang membuat udara dingin terasa lebih menggigit. Tak ada seorangpun aku lihat di pelataran kampus. Kelasku adalah kelas terakhir hari itu. Suasana gelap membuat perasaanku tambah tidak karuan. Aku rapatkan Jaket agar lebih nyaman sambil jalan setengah berlari menembus gerimis. Jalan sudah lengang. tak ada sebuah mobilpun yang lewat, juga tak seorangpun yang aku temui. Aku semakin mempercepat langkah. Tanganku merogoh saku jaket mencari-cari kotak rokok, sambil merokok akan terasa lebih hangat dan tenang, pikirku. Aku ambil sebatang dan menyulutnya. Tapi saat aku nyalakan korek api, saat itu pula langsung padam diterpa angin kencang. Berkali-kali aku coba tapi tak pernah berhasil. Bersamaan dengan itu sudut mataku menangkap bayangan hitam melayang dibawah pohon yang berdiri diseberang jalan. Kontan aku urungkan niat merokok dan melanjutkan langkah setengah berlari ke stasiun. Aku semakin merinding, bulu kudukku meremang lagi!

100 meter didepan aku harus melewati taman. Aku perlambat langkah, ragu-ragu. Seharusnya aku ambil jalan memutar sehingga tak harus melewati taman itu di malam hari begini. Tapi dinginnya udara mendorongku untuk terus melewati taman itu, berusaha secepat mungkin mencapai stasiun, tempat yang lebih hangat daripada dijalan seperti ini. Memasuki jalan setapak di taman, angin semakin menderu, aku mendengar suara-suara aneh di belakangku. Aku hentikan langkah dan sontak menoleh kebelakang. Tak ada apapun, hanya jalan setapak lengang. Aku baru sadar bahwa taman yang cantik dengan pohon pohon besar ini sangat menyeramkan dimalam hari. Apalagi melihat jalan setapak dibelakangku yang diterangi lampu taman, seakan sebuah lorong menuju neraka di ujung sana! Aku balikkan badan, berusaha berjalan secepat mungkin, tak kuhiraukan lagi suara-suara aneh dibelakangku.

Sampai di stasiun, mungkin inilah perasaan putus asa terbesar yang pernah aku alami. Tak seorangpun disana, toko dan kiosk sudah tutup semua. Didalam stasiun suasana lebih mencekam tanpa seorang manusiapun. Aku mencoba menenangkan diri, mengambil tempat duduk disebuah bangku tunggu panjang. Aku berusaha tidak menoleh kanan-kiri, namun tanpa bisa kucegah ekor mataku liar mengawasi sekitar.

Tiba-tiba pintu masuk stasiun yang terbuat dari kaca terbuka. dimusim dingin seperti ini pintu kaca itu selalu tertutup dan otomatis membuka jika ada orang masuk atau keluar. Namun tak kulihat seorangpun masuk. Bersamaan dengan itu hawa dingin
menerpaku dengan tajam, ada aroma wangi menyeruak. Aku rapatkan jaket, semakin membenamkan penutup kepalaku kebawah. Sesaat kemudian pintu kaca tertutup lagi. Bulu kudukku semakin merinding. Aku merasa ada sepasang mata mengawasiku dari pojok stasiun di samping pintu masuk. Aku melirik ke arah itu, tak ada apapun disana, hanya poster seorang wanita cantik sedang tersenyum dari sebuah agen perjalanan tertempel di dinding. Tapi senyum di poster itu malam ini berubah menjadi seringai yang menakutkan.

Aku tak tahan lagi, langsung berlari ke tempat tunggu kedatangan kereta. Untuk mencapainya aku harus melewati lorong panjang didalam stasiun, dan itu adalah lorong bawah tanah! Oh tidak, malam ini lorong itu terlihat seperti mulut setan, dan aku akan ditelan habis-habisan!
Tapi untuk tinggal di ruangan ini sudah tidak mungkin lagi. Baiklah, lari secepat aku bisa!

Aku serasa berlari secepat 100km per jam, semakin aku berlari semakin dekat rasanya suara seseorang mengejarku dari belakang. suara langkah kakinya semakin jelas. Kalaupun bisa, aku memilih pingsan saja daripada dimakan hantu stasiun ini, tapi sialnya aku tak bisa pingsan juga. Mendekati tangga naik, aku tak mendengar lagi langkah-langkah dibelakangku. Lega, berhasil melewati lorong stasiun, pasti ditempat tunggu kedatangan kereta aku akan bertemu seseorang yang juga sedang menunggu kereta.

Mist! Lagi-lagi tak ada seorangpun yang aku lihat. Ruang tunggu kedatangan kereta ini lengang sekali. Meskipun sinar lampu neon sangat benderang, namun bangunan tanpa dinding ini tidak seterang seharusnya, sinar lampu langsung membias ke kegelapan tanpa pantulan. Angin semakin kencang, Suaranya menderu bagaikan ribuan tawon mengerubung. Aku berlari menuju ruangan kaca ditengah bangunan, setidaknya disana aku akan terbebas dari hempasan angin beku sialan ini.

Sambil berlari aku berusaha melindungi wajahku dari hembusan angin dingin yang semakin beku, pada saat bersamaan aku merasakan tamparan keras diwajahku, dingin, kasar!
Aku berteriak histeris karena terkejut. sekuat tenaga aku berusaha membuang sesuatu yang berasa kasar dan dingin yang melekat diwajahku dan mencampakkannya jauh jauh. Entah benda apa itu, otakku tak bisa lagi berpikir. Aku semakin berlari ke ruang kaca.

Aku lepaskan tas punggung ke sebuah kursi panjang, kemudian mengambil duduk disebelahnya. Setidaknya tadi siang seseorang telah menghidupkan pemanas ruangan disini. Udara hangat langsung menyelimuti tubuhku begitu aku berhasil membuka pintu.
Jam 10:15 malam. Berarti harus menunggu kereta selama 22 menit lagi. Aku masih heran, kenapa malam ini tak seorangpun yang aku temui disini? normalnya aku bertemu dengan orang-orang yang baru pulang belanja atau anak-anak muda. Tapi kemana mereka semua? Sudahlah, aku membaca buku saja, setidaknya bisa mengusir sepi. Lima menit kemudian aku menghentikannya, kudukku merinding lagi, perasaan aneh mulai menyergap pikiranku lagi. Aku melihat sekeliling menembus dinding kaca. Diluar sana malam begitu pekat, daun-daun bergerak dengan liar dihempas badai malam ini. Aku tajamkan telinga, sayup aku mendengar suara seorang wanita sedang bicara. Oh tidak, itu suara teriakan! semakin lama semakin jelas. dan kenapa suara teriakan itu demikian panjang dan memilukan? Aku sontak berdiri, mencari asal suara tadi, jangan dikira degup jantungku seperti apa, yang pasti ini adalah batas akhir ketahananku. Namun tidak juga aku berhasil mencari sumber suara teriakan tadi sampai akhirnya menghilang dengan sendirinya bersama hempasan badai yang sedikit mereda. Tak sampai suara tadi benar-benar hilang aku mendengar jeritan anak kecil, melengking, tinggi dan memilukan, oh mein Gott, apa lagi ini? Kenapa suara-suara itu sangat ribut dan memilukan? apa yang terjadi dengan mereka dialam sana?

Aku tak sanggup lagi mendengar suara suara itu, kututup kedua telingaku dengan telapak tangan rapat-rapat. Sontak jantungku mau melompat dari tempatnya waktu menyadari ada sesuatu yang bergerak-gerak dari lorong bawah tanah, semakin lama semakin mendekat. Sosok putih itu melesat ke ruang kaca, ketempat aku duduk, demikian cepatnya sehingga aku hanya bisa terpaku ditempat duduk tanpa bisa berbuat apa-apa, diam mematung. Dan sekarang sosok putih itu berada tepat didepanku…
Tak hanya satu, beberapa sosok lain muncul dari arah yang sama, besar, kecil, semuanya putih. Aku hanya terpaku, tak berbuat apa-apa lagi. Aku hanya bisa melihat semakin lama mereka semakin banyak, semuanya bergerak tak beraturan. Dadaku terasa sesak, kucoba mengambil nafas dalam-dalam dan menenangkan diri. Mereka semakin banyak, bergerak mengitari ruang kaca!

Sayup-sayup dalam gemuruhnya badai dan riuhnya suara-suara aneh dari sosok-sosok putih itu aku mendengar kereta datang, semakin lama semakin jelas dan berhenti.
aku langsung menyeruak keluar dari ruang kaca, menerobos kerumunan sosok-sosok putih itu dan masuk kedalam kereta. Disini aku merasa lebih aman dan hangat, apalagi saat kondektur dan masinis menyapaku dengan senyum, “Guten Abend..”. Setidaknya aku tahu bahwa keduanya bukan hantu.

————– TAMAT ————-

 

Keterangan kejadian cerita:

 

  • Terjadi pada malam jumat di stasiun kereta api Husum
  • Nyata, bukan fiktif.
  • Bayangan hitam yang bergerak dibawah pohon adalah daun2 kering yang tertiup angin :-)
  • Pintu kaca yang membuka-nutup sendiri; Misterius!
  • Suara kaki yang mengejarku dilorong stasiun; Gema sepatuku sendiri! :)
  • Benda dingin kasar yang menampar wajahku; nggak jelas itu kertas atau daun kering yang terbang dibawa angin.
  • Kuduk merinding; itu karena syal-ku sering melorot, pindah dari tempatnya!
  • Suara jeritan wanita dan anak-anak; itu suara badai, sering menghasilkan suara2 aneh yang mengerikan yang kadang2 memang kayak orang njerit2 atau teriak2. Terjadi karena angin kencang menabrak dinding atau pohon, kemudian berbelok dan melalui celah yang lebih sempit, akhirnya menghasilkan bunyi aneh. Percobaan; ambil botol kosong, letakkan bibir pada posisi tertentu dimulut botol dan tiupkan udara kedalamnya, pasti menghasilkan suara juga!
  • Soso-sosok putih yang muncul dibagian akhir cerita: Mereka orang Jerman bule! sama2 nunggu kereta, nggak ada kan, bule bersosok hitam? :))
  • Judulnya kok aneh? suka-suka ajah!

Baca cerita lain & Foto >>

2 Tanggapan ke “Hantu Stasiun”

  1. Anonymous Berkata:

    gak seru

  2. ayu Berkata:

    eh …. itu crita nyata

Tinggalkan Balasan

XHTML: kamu dapat menggunakan tag-tag ini: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>